Ingin menikmati pemandian air panas yang tidak jauh dari Ibu kota? Bogor dan Depok menawarkan solusinya.

Hari minggu, seminggu yang lalu saya dan keluarga pergi ke sebuah pemandian Air Panas di daerah Kabupaten Bogor, Gunung Pancar. Lokasinya cukup mudah dijangkau. Dari Jalan Raya Jakarta Bogor kita lurus terus hingga lampu merah ke arah Sentul. Kemudian belok kiri, Jalan Alternatif Sentul hingga lewat kolong Tol. Lalu Belok Kanan ke Jalan Raya Babakan Madang. Lama perjalanan sekitar 1,5 hingga 2 jam dari Arah Kampus UI.

Selain memang ingin berlibur, ada rencana ingin mengobati adik yang sakit kulit. “Obat sakit kulit itu mandi air belerang”, begitu kata teman. Belakangan baru diketahui ternyata bukan sakit kulit, tapi infeksi dari Scabies yang penyebarannya sudah meluas.

Sebelum masuk ke wilayah obyek wisata tersebut, kita sudah disuguhkan pemandangan hutan pinus di kanan kiri jalan. Terlihat beberapa pasang (entah makhluk apa, haha) asik bercengkrama di tepi hutan sambil melihat pemandangan yang ada di bawah. Asiknya.. (pemandangan hutan maksudnya, jangan salah sangka :p).

pemandangan hutan pinus menemani perjalanan

pintu masuk pemandian air panas gunung pancer

Sebelum menyentuh parkiran, kita melewati dua pintu gerbang. Saya tidak tahu apa bedanya. Yang pertama diminta dua ribu rupiah perorang. Dan yang kedua diminta sejumlah uang sesuai papan tarif tiket yang dipasang (lebih jelas). Tebakan saya yang pertama adalah gerbang untuk masuk ke daerah tersebut, karena banyak juga yang menikmati pesona hutan tapi tidak masuk ke wisata air panasnya. Yang kedua baru memang betul-betul pintu obyek wisata air panas.

tarif air panas gunung pancer

Ketika masuk ke dalam, setelah melewati parkiran, pikiran yang terlintas adalah ini wisata yang masih ‘tradisional’. Jalan yang masih tanah dan kurang tertata. Belum lagi ketika masuk ternyata hanya ada dua kolam besar untuk berendam. Sedikit kecewa karena berharap lebih ‘wow’. Namun, kata bapak diujung ada kolam yang memiliki air mancur karena Beliau pernah kesini sebelumnya. Ada harapan, kami terus menuju ujung jalan. Tapi tiba-tiba anak kecil penjual belerang bertanya dan mengatakan kalo kolam yang diujung sudah ditutup. Dan benar saja, sudah tidak ada kolam lagi selain dua kolam tadi.

jalan menuju TKP

Belum selesai ‘ngenes’nya, kami bingung lagi ketika mengetahui tempat beristirahatnya hanya di sela-sela jalan. Bahkan ada anak kecil yang sepertinya kecewa dan mengungkapkan pada ibunya. “Mah, masa’ cuma gini? Mending ke Water Boom”. Dalam hati ku menyahut, “ya iyalah Tong, harga tiketnya aja beda kayak bumi sama jupiter”. Tapi ya sudahlah mari kita nikmati saja.

keponakan ane nih gan😀

Setelah berendam, nyessss. Rasanya asik juga. Airnya pun masih cukup jernih, atau mungkin karena kami datang pagi, entahlah. Bapak-bapak disekeliling kolam juga banyak yang dipinggir, belum berani nyebur karena badan butuh penyesuaian. Untuk kaum hawa ada kolam lagi disebelahnya. Namun, menurut saya unrecommended karena kurang tertutup.

ini kolam untuk wanita, terbuka ya..

ini kolam untuk pria

Selain dua kolam untuk bapak-bapak dan ibu-ibu, kita juga bisa menikmati air panas dalam kamar untuk berendam. Namun, dikenakan tarif lagi sebesar lima belas ribu rupiah per tiga puluh menit.

tarif berendam air panas gunung pancer

Kawasan hutan yang disekitarnya juga masih tergolong asri. Terlihat beberapa monyet berpindah dari dahan ke dahan lain. Sambil duduk di tikar tempat istirahat, kita bisa melihat mereka sedang memperhatikan kita. Apakah mereka sedang mengintip? Hehe.

kelihatan monyetnya?

Mendekati waktu Dzuhur, kami naik sedikit ke atas. Tempat mushola berada. Dan, sekali lagi sayang seribu sayang, untuk wudhu ternyata harus wudhu di toilet. Alamak, tahu sendiri kesucian toilet tempat wisata bagaimana. Belum lagi tempatnya yang jauh dari mushola tadi. Akhirnya kami memutuskan untuk sholat di masjid yang akan kami temui dalam perjalanan pulang.

Oh ya, sepulang dari sana saya googling sedikit tentang obyek wisata Gunung Pancar. Ditemukan beberapa foto kolam yang bagus dan ada tempat menginapnya. Entah sebelah mana dari tempat yang tadi kami kunjungi atau mungkin salah belok? Hehe. Namun, tujuan utamanya sudah tercapai. Mandiin adik yang sakit. Jadi lain kali kalo mau ke tempat wisata, baiknya cari info dulu, siapa tahu lebih baik obyeknya.😀

Comments on: "Pemandian Air Panas Gunung Pancar" (2)

  1. ziyy pernah ke sini.
    tracking ke gn.pancar trus ngga ke pemandian air panas yang rame tapi muter ke belakang, ke atasnya lagi tempat sumber air panas yang lebih sepi.
    tracking bertigaan ama dian dan adiknya, dari rumahnya. berangkatnya lebih banyak jalan kaki,bener-bener jalan kaki. haha, jadi inget dulu ini tracking sok bertualang, gara-gara sama dian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: