Sekilas September

Sebulan tanpa posting, bingung mau ngelanjutin apa. Tapi kapan belajarnya kalo gak mulai kan?hehe. September yang dilewati memang sesuai lagu, September Ceria. Di bulan yang kebetulan saya lahir kemarin ada pemberkasan, wisuda teman seangkatan di UI, bahkan banyak yang sudah menggenapkan separuh agamanya.🙂

Setahun sudah

Berakhirnya bulan September, tepat tanggal 30, twitter dan post teman-teman cukup ramai dengan pekikan #G30S-Aki. Bukan mengenang kejadian Gerakan PKI 30 September 1965 tapi karena setahun lalu gedung G STAN penuh dengan si kalung biru, akuntansi. Rasa puas, haru, bangga menyelimuti hati sebagian besar akunisti, waktu itu.

“Ibarat pernikahan, yudisium inilah akadnya dan wisuda itu walimahannya”, kata teman sih gitu. Hehe. Perjuangan 3 tahun yang diselimuti momok DO sampai pada puncaknya. Tidak hanya itu, fitnah dan sindiran-sindiran miring akibat ulah kakak kelas kami segera akan kami buktikan bahwa kami tidak seperti dia (mereka). Harapan besar di depan mata, ya kita akan segera diangkat, itu bayangan kami.

Waktu terus berjalan dan hoax-hoax berterbangan. Haha. Ketidakjelasan akan nasib kami di tahun kelulusan (2011) semakin terlihat jelas. Bahkan ada yang sampai melakukan persiapan pemberkasan tiga bahkan empat kali karena informasi yang simpang siur. Kini, OKtober 2012, Alhamdulillah ada secercah harapan. Setidaknya kita semua sudah mengumpulkan berkas dan dari teman-teman non kemenkeu sudah ber-title CPNS.

“Bukan pesimis, tapi mencoba realistis agar tidak terlalu sakit saat jatuh”

Kalimat diatas cukup sering diungkapkan teman angkatan. Masuk akal dan dapat dipahami perasaan mereka mengingat beberapa kali kena berita yang hanya kabar burung belaka. Lebih mirisnya lagi, dalam masa tunggu ini beberapa kali saya menyalami teman seangkatan SMA yang sudah lulus S1. Bahkan ada teman yang S1 itu sempat ikut tes CPNS kemarin. Kemenkeu pula. Apa jadinya jika ternyata dia masuk dan kita diangkat bareng? Haha, surprise!

Saya pun pernah ngobrol dengan Direktur di salah satu Direktorat. Bercerita tentang masa-masa yang telah kami lalui. Sempat keluar kalimat, “rugi juga kamu ya dek, umur segitu masih magang”. ‘Jleb! Jleb! Jleb!’ dengernya. Gile, bukannya dikasih motivasi malah disindir. Namun, saya memahami karakter Beliau yang penuh dengan daya juang. Masih muda sudah jadi Direktur. Saya mencoba mengambil hikmah dan pesan yang saya tangkap adalah ‘balas ketertinggalanmu anak muda!’.


اُنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوْا إِلَى

مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ.

“Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu, karena yang demikian lebih patut, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu” .Hadits shahîh. Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 6490), Muslim (no. 2963), at-Tirmidzi (no. 2513), dan Ibnu Majah (no. 4142), dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu.

Mungkin selama ini saya dan beberapa teman lainnya terlalu sering melihat ke atas sehingga lupa bersyukur dan melihat ke bawah. Di rumah, orang tua sering becerita tentang nasib guru honorer di sekolah masing-masing. Bahkan di luar negeri juga demo karena pengangguran. Ya intinya Allah punya berbagai skenario untuk kita jalani, tinggal bagaimana kita menyikapi. Kesyukuran yang membuat seseorang menjadi kaya dan belum tentu kekayaan membuat seseorang menjadi syukur.

Doa Saudara

Salah satu hal dan mungkin saja bisa jadi faktor terbesar yang membuat kita bisa sampai seperti ini setelah rahmat Allah adalah karena ada orang yang senantiasa mendo’akan kita. Senjata seorang muslim ada pada do’anya. Bahkan sebuah tindakan dengan selemah-lemahnya iman, masih diperkenankan dengan do’a. Dan kita tidak pernah tahu, pada siapa yang do’anya langsung meroket menuju langit.

Pada hari milad yang kemarin, saya sengaja me-hidden tanggal lahir dari situs jejaring social. Selain karena iseng, ada alasan lain yang saya ingin tahu dampaknya. Namun, ketahuan juga pada akhirnya. Alhamdulillah ada yang tahu milad saya, hehe. Seorang sahabat menegur lewat WA, “don’t you wish for other to have prays for you?”. Emm, sebuah pertanyaan yang belum saya prediksi. Ia tidak menanyakan kenapa atau ada apa tapi do’a. Terlepas dari hukum mengucapkan selamat milad, yang jelas saat milad memang jadi momen tepat untuk mendo’akan seseorang. Ya Semoga kita senantiasa memliki saudara yang senantiasa mendo’akan kita, saat kita milad atau tidak.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: