Terlalu Cepat Seribu Tahun

Bismillah, mencoba posting lagi setelah libur selama sebulan. Seharusnya gak ngaruh jg mau Ramadhan atau bulan biasa, katanya sih kita harus tetep produktif. Terlebih untuk saya yang masih belajar menulis. :p. Tapi saya hanya berusaha mengalihkan kegiatan ke arah lain, yang semoga lebih bermanfaat. Ah alibi, haha, ya karena jika saya lihat keadaan sekitar, terkadang malu atau minder juga melihat aktivitas dan karya teman-teman. Ibarat mereka sudah mencuri start lebih dahulu dan langsung nyetop taksi, padahal ini harusnya lomba marathon. Lho?

Sebagian diantara kita pasti pernah lihat di film-film ada istilah “terlalu cepat seribu tahun bagimu untuk mengalahkan ku”, haha (sambil tertawa jahat). Jika kita renungi kalimat itu, mungkin dan bisa terjadi pada kita dan saat ini. Bukan berarti orang yang kita hadapi lebih tua seribu tahun, itu sih ngelawan Engkongnye dari Babehnye Engkong dipangkatin lima, nah ribetkan. Namun, yang kita saingi itu ilmu atau skill (kemampuannya). Contoh simpelnya, kita punya seorang temen yang jago banget grafis, umur gak jauh beda, tapi hasil yang dia ciptakan lebih sesuatu banget dibandingkan hasil kita. Dan jika kita mau menyainginya kita butuh kursus dan latihan yang pastinya makan waktu dan biaya. Contoh skala besarnya kita bisa bandingkan Negara atau kota yang sama-sama bangkit setelah PD II. Jika kita itung umur perjalanannya gak jauh beda tuh, tapi jika mencoba untuk menyamai/membangun kota (yang agak) tertinggal untuk seperti kota yang lebih maju, pasti butuh waktu tahunan. #NoMention😀

Satu kasus yang pernah saya temui ketika menjadi instruktur sebuah acara di salah satu kabupaten di Jawa Barat. Teman saya yang satu angkatan menceritakan ada Instruktur yang lebih senior, sekitar 5 tahun lebih tua. Ia yang kini mengelola lembaga tersebut, tempat kami menjadi instruktur. Diceritakan bahwa senior kami itu pernah mengutarakan bahwa ia iri dengan teman saya yang bercerita. Ketika lulus SMA, Si Senior belajar dan berlatih komunikasi hingga kurang lebih dua tahun untuk siap menjadi seorang instruktur/trainer yang sedia menerima order. Dan ketika ia saat ia terjun ke dunia itu, ia ber-partner dengan teman saya yang cerita itu. Lihat bagaimana umur bisa dikalahkan ilmu dan skill (kemampuan), atau setidaknya membuatnya menjadi sejajar.

Ah, kalo itu mah bakat Bang. Yak tul! Ada peran Allah melalui bakat/anugrah dalam perkembangan kehidupan kita. Dan siapa sih yg bisa milih anugrah? Anugrah itu given Boy! Saya tidak bermaksud menyampingkan sebuah anugrah tetapi seorang sahabat pernah memberi nasehat “Jangan pernah menyesali atas sesuatu yang bukan dalam ranah ikhtiar kita”. Menurut saya betul banget. Jangan sampai kita menjadi manusia yang kerjanya hanya meratapi nasib aja (gara-gara gak bakat). La Tahzan, Kita masih punya satu kartu As, Ikhtiar! Manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk mempelajari sesuatu. Lihat kegigihan orang yang punya bakat disekitar kita. Betul mereka berbakat, tapi kalo gak pernah diasah, ya sama aja. Betul memang orang disekitar kita sekian tahun lebih maju, tapi itu bukan alasan bagi kita untuk tidak maju. Allah punya cara-cara yang hebat dan shortcut untuk mengupgrade hamba-hambanya jadi nomor wahid semua. Mantabh!

Berhubung udah jam pulang, kita sambung kapan-kapan deh. Semoga semangat belajar dan menulis ini gak hilang, hehe. It’s time to go home! 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: