Kembali ke Anyer

Bagi yang tinggal di daerah Ibu kota, Jakarta pasti sudah tidak asing lagi dengan Pantai Anyer. Pantai yang menjadi pilihan selain Pantai Ancol untuk berlibur. Setidaknya pada liburan sekolah, beberapa sekolah jika mengadakan tour dengan tema pantai berkemungkinan akan memilih tempat ini. Kondisi alam yang masih jauh lebih baik (ketimbang pantai di Jakarta) dan lamanya perjalanan yang mungkin akan mejadi kisah menarik. Pantai yang memiliki beragam nama ini bisa saja menjadikannya banyak pilihan. Lihat saja, dalam deretan garis pantai yang sama kita temui nama pantai yang berbede-beda. Sebut saja Pantai Pasir Putih, Pantai Batu Saung, Pantai Sambolo, Pantai Karang Kitri, dan Pantai Karang Bolong. Perjalanan dapat ditempuh dengan jalur darat. Lima sampai enam jam dengan kendaraan roda empat dan lima sampai tujuh jam dengan kendaraan roda dua.

Sewaktu kecil saya sering diajak ke deretan Pantai Anyer. Maklum, Ortu saya guru. Kalo pas liburan anak-anak sekolah dan kebetulan pergi ke Pantai, saya ikut, hehe. Suasana alam yang ditawarkan memang bagus banget. Pantainya bersih. Kita bisa mencari kerang dan siput-siput laut yang suka dijualin di SD-SD. Pasirnya juga gak kalah keren. Bahkan menurut yang sudah pernah ke Bali, bisa dibilang “11-12” lah sama Pantai Kuta. Wow, sampe segitunya, saya sih belum pernah ke Bali,hehe. Semoga bisa kesampean. Dan waktu itu, bisa dibilang sampah pun gak akan tahan lama di Pantai, sudah bersih lagi. Selain karena menejemennya bagus, pengunjungnya juga (masih) sadar kebersihan.

Tapi, semua berubah ketika Negara Api menyerang, #eh. Hari minggu kemarin, 080712, saya pergi ke Anyer lagi. Berkunjung kembali setelah sekian tahun. Kondisi pun banyak berubah. Kesan pertama, jalan menuju lokasi kurang menyenangkan. Kira-kira masih di daerah CIlegon jalan yang kami lewati rusak berat. Debu-debu berterbangan dan lubang-lubang besar di jalan membuat perjalanan serasa sedang off road. Memang tertulis “sedang dalam perbaikan”, tapi sebelumnya tidak ada penunjuk tentang perbaikan tersebut dan penunjuk jalur alternatif agar kami bisa memlih jalur lain. Setiba di lokasi, banyak sekali pengunjungnya. Beda sama dulu, ya iyalah manusia juga nambah banyak. Hehe. Namun, satu hal yang sangat saya sesalkan yakni, sampah.

Untuk yang satu ini gak bisa ditolerir. Mau seindah apapun tempat wisata kalo banyak sampahnya, yakin gak bakal nyaman. Pasir pantai yang dulu sangat indah kini bercampur dengan bulir-bulir sterofoam. Deburan ombak tak lagi bening seperti dulu. Makanya, wajar saja saat kemarin kesana ada kolam renang. Pikir saya untuk apa ada kolam renang, di pinggir pantai pula. Ternyata kolam tersebut cukup laris dengan anak-anak. Orang tua tentu ingin anaknya bermain dengan aman.

Jika bicara sampah tidak bisa kita serta merta melepaskan permasalahan pada pengelola. Titik utamanya ada pada kesadaran dan sikap kita. Tambah lagi katanya nih, Indonesia punya program visit Indonesia. Kita harus memiliki kesadaran akan hal ini.

Tak salah memang jika kita, Indonesia memiliki program besar dalam hal pariwisata. Lihat saja dari serambi mekah sampai serambi oceania, bagian mana yang tak indah dari Indonesia? Jika kita nyebur saja ke laut, kita bisa melihat ke-Agungan Tuhan yang luar biasa. Indonesia memiliki 60% jenis karang dunia (Burke, Selig, & Spalding 2002), Negara Tropis dengan begitu banyaknya gunung aktif, dan tak akan kalah soal jumlah garis pantai.

Namun, peringkat Indonesia masih di posisi ke 81 dari 133 negara. Posisi tersebut masih di bawah Malaysia (32), Singapura (10), dan Thailand (39). Apabila dibandingkan peringkat tahun 2008, peringkat Indonesia mengalami penurunan. Namun di tahun 2011 terjadi peningkatan peringkat daya saing pariwisata, dengan menempatkan Indonesia menduduki peringkat ke-74 dari 139 negara, meskipun posisi tersebut masih di bawah Malaysia (35), Singapura (10), dan Thailand (41). Sementara itu, diantara negara-negara ASEAN, pertumbuhan jumlah wisatawan Internasional yang berkunjung ke Indonesia (5,01%) diperkirakan masih di bawah Vietnam (6.54 %), Myamar (7,19%), dan 12,52%). Padahal di sisi lain, Indonesia lebih kaya dan beraneka ragam alam dan budayanya (dikutip dari http://kppo.bappenas.go.id/preview/193).

Kita kembali ke Anyer, pantai Indah dekat Ibu kota. Okelah, mungkin kita (lebih tepatnya saya pribadi) belum pernah pergi ke berbagai tempat wisata di sudut-sudut Nusantara. Tapi kita mulailah dari sekitar kita. Jika memang anda bisa dan mampu mengelola yang lebih jauh disana, ya silakan. Saya tetap menghimbau kepada saya pribadi dan kita semua untuk lebih peduli dengan lingkungan. Di tangan kita lah nasib anak cucu Dunia, jangan sampai juga permata-permata Indah Nusantara dikelola asing (lagi). Mari majukan pariwisata Indonesia dan tetap peduli pada lingkungan.🙂

jalan menuju Anyer

jalan menuju Anyer

pasir pantai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: