Ada yang bilang “jika sudah bekerja sulit bertualang”, rasanya kalimat itu kurang pas jika kami mengingat apa yang baru saja kami lakukan. Pengalaman saya kali ini sungguh luar biasa. Keinginan yang telah terpendam sekian lamanya akhirnya terwujud. 12 pemuda dan 1 pemudi melakukan pendakian ke sebuah gunung yang pasti sudah tidak asing bagi para pendaki, Gunung Gede Pangrango. Gunung yang sangat indah dan sering menjadi target pendakian dengan hampir 400 pendaki setiap minggunya. Pesona alam yang ditawarkan sungguh luar biasa.

Jumat, 15 Juni 2012 pukul 17.00 WIB, tepat jam pulang kantor. 13 anak adam melakukan persiapan pendakian. Kami semua berasal dari angkatan dan instansi yang sama, DJKN (instansi setingkat eselon satu di Kementerian Keuangan) angkatan 2012. Dengan persiapan yg cukup singkat, kurang dari dua minggu berangkatlah Saya Kresna Nurul Fadhila, Tinton Surya, Rizka Fajar, Risdian Fajar Rohman, Setyo Widodo, Aulia Alam Perkasa, Resa Putranto, Guna Saptameyana, Putu Prasasta, Made Legawa, Hermanus Lintang, Erwandi Sembiring, dan Desiana Limbong Rara.

Pengecekan kelengkapan peralatan di Kantor

Pengecekan semua peralatan dan kesiapan anggota tim memakan waktu tiga jam. Sangat lama mengingat masih ada anggota tim yang menyelesaikan pekerjaan. Maklumlah hari jumat, mungkin prinsipnya “jangan sampai menumpuk hingga Senin”. Hehe. Pukul 20.00, setelah berdoa bersama berangkatlah tim Pendaki DJKN 2012 untuk menaklukkan Gunung Gede. Bismillah…

Perjalanan kami dimulai dari angkot D-01. Kami menyewa angkot tersebut setelah tawar menawar yang sengit tapi tenang gak sampe perang urat kok. Sebenarnya hal ini di luar rencana. Sebelumnya kami merencakan akan naik bus dari Kampung Rambutan hingga Cipanas. Namun, setelah dipikirkan ternyata lebih menguntungkan menyewa angkot mengingat jumlah kami yang pas dengan kapasitas  angkot dan barang bawaan yang mungkin me-ribet-kan jika harus sambung kendaraan.

Satu hal yang membuat khawatir perjalanan adalah prinsip dari supir kami. Tebakan saya, prinsipnya “tau gak tau yang penting ada penumpang”. Benar saja, selang beberapa kilo meter ia menepi dan memanggil temannya yang ‘mungkin’ baginya tahu jalan kesana. “Jek, temenin gw ke puncak”, asal sebut, sepertinya ia benar-benar tidak tahu dimanakah Gunung Putri itu. Datanglah seseorang berbadan kurus dan hanya memakai kutang. Dengan mantap ia menaiki kursi pengemudi menggantikan supir sebelumnya dan mulai bersiap, “yok berangkat” sahutnya.

Ketidakjelasan mulai terlihat di muka supir ketika akan keluar dari TOL. Supir yang kini sudah tidak menyupir (saya rasa kalian paham maksudnya,hehe) mulai sibuk menelepon temannya. Bertanya sana sini tentang Gunung Putri, jalur pendakian ke Gunung Gede. Untunglah salah seorang dari kami, Tinton cukup hafal jalur ke Gunung Putri, jadi tidak masalah lagi si Abang Supir dan temannya, Jek tahu atau tidak.

Perjalanan di tempuh dalam waktu yang cukup cepat. Pukul 22.45 sampailah kami di persimpangan jalan menuju arah Gunung Gede. Sesuai perjanjian, di situlah tempat kami turun. Namun, jalan kearah kaki gunung masih cukup jauh, sekitar 3 kilo dengan topografi jalan yang sudah mulai naik turun. Terpikirlah untuk meneruskan perjalanan dengan angkot yang kami sewa. Kami harus merogoh kocek Rp50.000,00 sebagai biaya tambahan penyewaan. Tidak hanya itu, uang juga harus kami berikan kepada beberapa orang yang mengatakan sebagai ada biaya izin tambahan. Entahlah, itu uang untuk izin macam apa lagi. Yang jelas, biaya sebesar 110ribu cukup mahal untuk pengeluaran ‘pemaksaan’ dari pegawai tanpa SK seperti kami.

Untuk pendakian, sebenarnya kita hanya cukup mengeluarkan biaya sebesar tujuh rebu perak sebagai biaya pendaftaran. Itupun sudah termasuk asuransi yang dijaminkan Dinas Kehutanan, Instansi yang menaungi balai konservasi seperti Gunung Gede. Gunung Gede termasuk daerah pendakian yang sering didaki sehingga pengadministrasiannya sudah cukup baik, ini menurut penglihatan saya.😀

Taburan bintang bercahaya, terbentang bagaikan sungai galaksi seolah menyambut kedatangan kami. Memang semakin tinggi kita berada, bintang akan semakin nampak dan indah untuk kita lihat. Bahkan mungkin kita bisa menggapainya, cieee. Dan, mendorong mobil pun tak luput jadi aktivitas malam itu. Tidak adanya pemahaman medan membuat supir sering salah prediksi. Tiga kali kami harus mendorong mobil di jalan yang menanjak. Semua mendorong termasuk si Jek yang hanya bermodalkan kutang dan kaos tipis. Dan, bisa ditebak, ia sering menggigil. Haha..

Pukul 23.30 kami sudah sampai di rumah warga, di kaki Gunung Gede. Terlihat puluhan, mungkin sudah ratusan pendaki lainnya yang baru tiba sesaat setelah kami. Beberapa rumah warga memang disewakan kepada pendaki dengan tarif saikhlasna untuk sekedar beristirahat. Dan kami pun beristirahat, menyimpan tenaga untuk esok hari.

Sabtu, 16 Juni 2012 pukul sekian-sekian, tak jelas, karena langit masih gelap dan udara sangat dingin. Dinginnya serasa menusuk daging. Saya terbangun beberapa kali. Maklum, tidur di lantai dan hanya bermodalkan jaket, sudah tidak kebagian selimut, hehe. “Jika di kaki Gunung saja sudah seperti ini dinginnya, bagaimana di puncak?”, kata-kata itu terlintas di pikiran. Rasanya sudah tak sabar bertemu mentari, bukan hanya karena ingin cepat mendaki tapi karena saat itu dingin (banget).

Pukul 05.00 semua anggota tim mulai membuka mata dan bersiap melakukan 3S, Sholat Shubuh, Sarapan, dan ‘Setoran’ (jika mampu). Mentari perlahan mengintip, menyibakkan kabut-kabut malam. Rona merah berapi-api mulai menghangatkan pagi dan seolah mengajak para pendaki untuk bersiap.

Mentari terbit di kaki gunung

Pukul 08.00 kami pun berangkat. Mengikuti iring-iringan pendaki yang terlebih dahulu berangkat. Hamparan tanaman kol dan jenis sayur mayur lainnya nampak hijau di sekeliling kami. Sesekali kami berpapasan dengan penduduk asli yang khas bertanya ala sunda. Jalan setapak masih enak, datar dan bertanah.

Langkah kami, langkah perjuangan


Tak lama berselang, hanya membutuhkan waktu kira-kira lima menit, kami sampai di POS Penjagaan pertama. Sekretariat Gede Pangrango Operation, tertulis jelas di pondok kecil itu. Pemeriksaan dilakukan, administrasi dan kelengkapan. Namun, biasanya hanya pemeriksaan administrasi saja dan ditanya beberapa hal terkait kesiapan pendakian.

“Pakai sepatu semua? Jangan buang sampah sembarangan ya, jaga kebersihan alam. Dan jangan pake sabun atau sampo disana”. Tanya penjaga pos yang dilanjutkan dengan anggukan Tinton tanda ia paham. Tinton yang mendaftarkan kami secara administrasi seminggu sebelum pendakian terlihat sudah sangat familiar dengan lingkungan sekitar. Sesekali ia menyapa pendaki lain, dari yang gondrong kayak Ki Joko Bodo hingga yang berjilbab kayak marsanda, Hehe.

Selesai pemeriksaan, kami melanjutkan perjalanan. Tak lupa kami berdo’a bersama memohon keselamatan kepada Dzat yang menciptakan Alam Semesta termasuk Gunung yang akan kami daki sebelum melanjutkan perjalanan lebih jauh. Bismillah, ayo lanjuuuut.

Setelah 30 menit, perjalanan mulai terasa berat. Trek pendakian tak lagi tanah tetapi sudah batu-batu yang sudah dibentuk menyerupai tangga. Kondisi tas yang masih penuh karena belum ada yang dikeluarkan, perlahan mulai terasa ‘nikmat’ di bahu. Akhirnya, sejenak kami beristirahat sekedar mengencangkan ikatan carier dan merenggangkan sendi. Udara yang sejuk dan suara kemericik air seolah memanjakan kami dalam istirahat. yak, dan kami melanjutkan kembali perjalanan.

Tak jauh dari persimpangan antara jalan dan sungai kecil tempat kami istirahat tadi, terlihat pohon-pohon yang hijau lebat. Kami sudah memasuki daerah hutan. Wush, udara tak hanya sejuk lagi tetapi mulai terasa dingin. Aroma khas hutan dan kebersihan udara dingin yang kami rasakan ini tak mungkin saya lupakan. Bagi saya yang sejak kecil tinggal di pinggiran kota, sangat langka bisa merasakan hal seperti ini. Mungkin hal ini biasa bagi anggota tim lainnya.

Trek perjalanan semakin menantang. Mulai dari batu-batuan, tanah, dan sekarang akar pohon yang saling melintang. Namun, itu semua tak menyurutkan semangat kami. Saya bangga bersama teman-teman seperjalanan karena memiliki mental dan semangat yang sangat bagus. Banyak yang mengaku pendakian kali ini adalah yang pertama tetapi tidak ada rasa keluh dan banyak ocehan tak berarti di perjalanan. Seorang teman pernah berkata, kunci naik gunung bukan hanya pada fisik tapi juga pada mental dan daya juang.

ini jalan kami😀

Oh ya, jika pernah menonton Kick Andy tentang anak kecil yang suka naik gunung, itu bukanlah rekayasa. Disana pun saya bertemu dengan anak-anak yang ikut bapak atau ibunya mendaki. Umurnya kira-kira tujuh sampai sembilan tahun. Malu rasanya kalo kita sampai nyerah di jalan. :p

Sesekali kami bertemu penduduk asli. Mereka berjualan makanan yang mungkin saja dibutuhkan para pendaki. Luar biasa, dalam hati saya bersyukur. Lihatlah perjuangan orang-orang disekeliling kita. Kita sedang naik gunung untuk ‘refreshing’, sedangkan mereka naik gunung untuk mendapatkan sesuap nasi. Rasanya masih bersyukur saat ini kami masih pegawai honorer, ups, hehe.

Saya sempatkan mengobrol dengan salah seorang penjual. Beliau mengaku rutin setiap akhir pekan naik gunung seperti ini untuk berjualan kopi atau goreng-gorengan. Jika di hari biasa (hari kerja), beliau menggarap kebun yang ada di kaki gunung tempat kami menginap semalam. Guna, salah satu dari kami membeli bakwan dari mereka. Lumayanlah, mengganjal perut.

istirahat dulu ahh

Pukul 12.00 tepat, kami menemukan tanah yang agak landai dan cocok untuk beristirahat. Akhirnya kami beristirahat, membuka semua roti dan snack. Beberapa sepertinya sudah tinggal sedikit air minumnya, mungkin haus banget, hehe. Sebenarnya cukup dengan air 600 mL untuk perjalanan dari kaki gunung hingga Surya Kencana. Asalkan kita bisa mengatur cara minum kita. Sedikit minum itu menguntungkan, analoginya sedikit minum sedikit keringat. Sedikit keringat, sedikit capek. Haha, itu cara pikir kami. Kalo dari segi kedokteran? Tanya aja sama dokter. :p

Pos demi pos kami lewati. Sayangnya, tak seorangpun dari kami mencatat waktu saat kita tiba di pos-pos tersebut. Kemungkinan karena fokus kami sudah semakin mengerucut, segera tiba di Surya Kencana. Buntut Lutung, Simpang Maleber, Lawang Saketeng, hingga tibalah kami di Alun-alun Surya Kencana.

Rasa lelah pun terbayar. Tanah luas menghampar dengan balutan kabut tipis. Savana menguning bagai emas menyambut kedatangan kami. Eidelweiss, Si Bunga Abadi tersebar di seluruh penjuru Surken, singkatan Surya Kencana. Sesekali Eidelwes bergoyang dan rumput menari indah terkena hembusan angin gunung yang dingin. Inilah salah satu, mungkin satu-satunya Balai Konservasi Edelwes yang ada di pulau Jawa. Rasa haru menyebar dalam dada. Dan, tak terasa air mata menetes. Kini saya rasakan, begitu besar ke-Agungan-Mu dan kecilnya diri ini. Malu rasanya jika teringat akan dosa-dosa kami pada-Mu.

hamparan savana, balai konservasi eidelweis

Usai berfoto-foto, tepatnya pukul 14.10 kami memutuskan untuk mencari lokasi mendirikan tenda. Menyusuri Surya Kencana yang sangat luas tak kalah mengasyikan. Dari lokasi pertama tiba di Surya Kencana hingga lokasi yang biasa untuk mendirikan tenda berjarak sekitar 15 menit. Dari kejauhan tampak beberapa tenda sudah didirikan pendaki yang sudah sampai terlebih dahulu. Di dekat sumber air dan ada beberapa alang-alang yang menjadi tempat pilihan kami. Pukul 14.30 kami mendirikan tenda, memasang fly sheet, sholat, dan menyiapkan peralatan lainnya. Hanya tiga buah tenda yang kami dirikan, dan kami rasa itu cukup untuk tiga belas kepala.

Langit semakin gelap dan udara pun semakin dingin. Saya berharap segera masuk waktu magribh agar bisa segera sholat. Karena semakin ditunda, semakin besar tantangannya, dingin. Brrr.

Semua mengambil peran masing-masing, ambil air dari sumbernya, merapikan tenda, dan yang paling utama, memasak. Pukul 16.00 kami memasak. Capek, kedinginan, dan perut kosong maka tidak ada lagi yang kami tunggu selain makan. Enak kurang enak, matang atau kurang yang penting perut terisi dulu, hehe. Untuk makanan yang disajikan di alam tanpa perencanaan yang masak, masakan kami cukup nikmat. Sarden dengan taburan rawit segar ditambah sayur sop rasa mie dengan parutan wortel renyah. Emm, yummy, kelezatan tiada tara, ketimbang makan eidelwes dan alang-alang. Sun set di Surya Kencana pun menemani makan siang, eh malam kami.

Aktivitas malam kami yang dingin, bisa dibilang ngobrol di tenda aj sih. Angin malam semakin kencang dan seolah ingin menunjukkan eksistensi dirinya. Tinton, ‘kuncen’ perjalanan kami meminta kepada saya agar membicarakan dengan teman-teman tentang rute pendakian esok hari. Rute yang umum diambil pendaki untuk mendaki Gunung Gede ada dua rute, melalui gunung putri atau taman cibodas. Yang harus diputuskan malam ini adalah rute kita turun gunung esok. Kita berangkat melalui rute gunung putri, apakah pulang dengan rute yang sama atau mencoba rute cibodas.

Kelebihan jika kita pulang melalui rute gunung putri adalah kita bisa ke puncak menikmati sun rise, kemudian kembali ke Surya Kencana untuk sarapan dan packing, dan turun gunung dengan rute yang sama dengan mendaki (lebih pendek ketimbang cibodas). Kekurangannya kita tidak tahu jalur cibodas dan menikmati air terjun dan air panas di rute cibodas.

Kelebihan jika kita pulang melalui rute cibodas adalah kita bisa sedikit lebih relax dengan objek-objek yang ada, dengan sudut elevasi yang lebih landai, dan menambah pengalaman tentunya. Namun, sebuah opsi lagi jika kita memilih cibodas, apakah mau menikmati sun rise di puncak atau tidak. Karena untuk ke rute cibodas dari Surya Kencana kita harus melalui puncak. Jika masih niat liat sun rise dan ingin lewat cibodas maka setidaknya sebelum pukul tiga atau empat shubuh, kita harus sudah rapi packing tenda dan segala perabot lainnya. Sanggup?

Belum selesai diputuskan, Tinton yang kebetulan satu tenda dengan saya, dan masih mendiskusikan hal tersebut mengambil plastik, dan byar buff! jadilah koko crunch. Tinton masuk angin. Spontan saya memanggil teman-teman yang ada di tenda lain untuk membantu. Semua berbondong-bondong seperti orang mau kondangan masuk ke tenda. yang paling semangat adalah Erwandi, putra batak ini dengan sigap mengambil peran tukang urut, dan yang lainnya memijat.

Desi yang kebetulan di luar tenda, meminta air panas dari tenda kelompok lain. Kelompok/tim pendaki lain nyaris tidak percaya ketika dikatakan ada salah seorang diantara kami yang sedang sakit. Karena memang sejak malam datang, bagian lembah tempat kami berkemah nyaris tidak ada suara lain selain suara dan tawa tim kami, haha maklum anak muda.

Menurut saya Tinton hanya kecapean. Bagaimana tidak, hampir keseluruhan persiapan pendakian, terutama peralatan ia yang menyiapkan. Ketika ditawarkan bantuan, ia hanya meminta agar mengkoordinasikan anak-anak dan mengatur keuangan.

Jam sudah menunjukkan pukul 21.00. Suhu di sana seakan ingin mengatakan “sebaiknya kalian di dalam tenda saja”. Langit pun masih indah dengan coretan sungai galaksi dan taburan rasi bintang yang seolah kami bisa memetiknya. Semua anggota tim mulai kembali ke tenda masing-masing dan tidur. Keputusan pun telah diambil, mengingat ada salah seorang diantara kami yang kurang sehat dan senin pagi kita harus ngantor lagi. Jadi, agak beresiko mengambil rute panjang, cibodas. Rencananya kita akan ke puncak pukul tiga pagi untuk melihat sun rise dengan meninggalkan tenda di Surya Kencana untuk selanjutnya kembali, packing, sarapan, dan pulang dengan rute gunung putri.

Pukul 24.00 semua tenda bergoyang dan semua orang terbangun. Angin yang sangat kencang menerpa tenda-tenda kami. Suhu sangat dingin. Serasa menusuk hingga tulang, brrr sulit digambarkan. Rasanya hampir tak ada guna jaket tebal plus double kaos. Ujung-ujung badan lebih dingin lagi, kaki dan tangan. Yang unik, semua yang terbangun berpikiran sama, merasa sudah jam tiga dan siap berangkat. Setelah tahu masih tengah malam, beberapa kembali tidur dan lainnya berusaha untuk memasak air, minum sesuatu yang menghangatkan badan.

Minggu, 17 Juni 2012 pukul 03.00 dini hari. Beberapa teman sedang asik ngobrol di depan kompor. Memasak sesuatu untuk dimakan dan diminum, entahlah apa itu. Saya hanya setengah tersadar, dinginnya cuaca membuat badan hanya ingin direbahkan. Sempat tersirat ketidakinginan untuk ke puncak. Motivasi turun karena cuaca.

Pukul 04.00, molor dari yang direncanakan. Hampir keseluruhan anggota tim telah siap ke puncak. Samar-samar saya dengar suara Prass, anak Bali memanggil saya. “ayolah kres, sangat langka kita bisa lihat sun rise di gunung”, bisiki hati menyemangati diri. Akhirnya pukul 04.15, setelah semua siap dengan pakaian hangat dan senter, kami berangkat. Tak lupa kami berdoa sebelumnya. Tinton hanya mengantar sampai batas antara tempat kemah hingga trek yang sudah mulai dipenuhi pohon. Kemudian ia kembali ke kemah, jaga barang dan istirahat.

Rasa dingin perlahan hilang dengan gerakan tubuh yang harus mendaki rute menuju puncak. Rute yang dilalui cukup mudah. Walau tak bertemu pendaki lain, terdengar suara mereka dari kejauhan. Sedang berjuang juga agar bisa melihat dunia dari puncak gede.

Perlahan pandangan kami tak lagi pohon yang berdiri angkuh mengiringi trek pendakian. Hitam tapi cerah, ah sulit mendeskripsikan yang jelas kami sadar bahwa itu adalah langit. Kami memasuki batas langit dan Bumi. Dan akhirnya, Alhamdulillah pukul 05.05, kami bertatap muka dengan rona merah. Terlihat balutan jingga mulai menggeliat keluar dari ufuk timur. Ya, kami di puncak Gede!

Rasa syukur, haru menyelemuti dada. Pemandangan atas pencapaian yang luar biasa. Subhanallah, indah sekali ciptaan-Mu yaa Rabb. Terlihat beberapa kawan meneriakkan sesuatu, apalah tak jelas sekedar meluapkan emosi dan kepuasan. Hati tergetar dan sungai kecil perlahan terbentuk dari pelupuk mata. Ada beberapa dari kami mengusap pelan pipi. Haha, tak ada yang tau tapi beberapa dari kami tahu. Dan kami tahu hal ini wajar, sungguh kita ini kecil, kecil sekali.

Mungkin kami adalah kelompok pendaki ke dua atau tiga yang baru tiba saat itu. Di puncak itu belum ramai, hanya ada beberapa pendaki lain yang masih terhitung dengan jari. Salah satu dari kami pun ada yang langsung mengambil posisi. Adzan Shubuh dikumandangkan. Membumbung tinggi ke angkasa bak bukti keagungan. Baginya, itu adalah Adzan pertama yang dikumandangkan di ketinggian 2.958 Mdpl. Pendaki muslim lainnya bersiap tayamum dan melaksanakan sholat shubuh. Pendaki lainnya yang tidak sholat berada di sisi lain, menunggu kami untuk menikmati sun rise bersama. Sungguh, aku cinta Indonesia, Negeri yang Toleran.🙂

Rasanya amat sayang jika tak mengabadikan moment berharga ini. Sepanjang masih ada spot bagus, disanalah kami berfoto. Dan akhirnya spanduk DJKN dibentangkan, wujud kecintaan kami terhadap korps. Atau mungkin lebih tepatnya membangun kecintaan,hehe.

Pukul 07.10, setelah puas memanjakan mata dan hasrat ber-narsis ria kami turun, kembali ke kemah. Sesuai kesepakatan tadi malam, kami akan turun melalui jalur yang sama ketika mendaki. Tiba di kemah, kemudian masak dan packing.

Memasak kali ini harus habis! Itu prinsipnya, agar barang bawaan berkurang dan jadi lebih ringan. Entah kenapa memasak waktu itu jadi sangat menyenangkan. Diiringi lagu “Kisah Klasik” so7 dan “Ingatlah hari ini” Project POP membuat suasana agak sedikit mellow, haha. Ya, kami terbayang akan penempatan yang akan kami hadapi beberapa bulan lagi. Sulit, bahkan tak mungkin lagi kami bisa berkumpul dan naik gunung seperti ini. Indonesia itu Luas dan Indah Bung! Sedikit kata mengibur hati.

memasak sambil gembira

Pukul 10.05, lokasi sudah bersih dan kami siap turun. Jangan lupa ya untuk membawa plastik sebagai tempat sampah. Gunung ini akan tetap indah jika kita merawatnya bersama.

Usai do’a bersama, dan sedikit yel-yel pembakar semangat, kami bergegas turun gunung. Terjawab sudah tanda tanya besar, terpenuhi sudah keinginan, dan sekarang kami ingin pulang.

Pukul 14.20 kami telah tiba di pos penjaga, kaki gunung. Lebih cepat turun daripada naik. Rasa nyeri dan kencang-kencang gimana gitu di kaki mulai terasa nikmat. Sambil rehat sejenak, kami makan siang di warung penduduk dan bergantian membersihkan diri.

Pukul 16.00 bersama mobil charteran, kami menuju jalan raya. Cukup 45 menit kami sampai di jalan raya dan menunggu Bus. Entahlah bus apa, yang penting kami bisa pulang,hehe. Semula ingin menyewa mobil lagi hingga Terminal Senen tapi tak ada yang mau. Sekitar 15 menit menunggu akhirnya kami naik ke Bus jurusan Merak. Sebuah opsi pahit karena tak jelas akan si diturunkan dimana kita semua.

Benar saja, di dekat pintu masuk TOL Ciawi kami diturunkan paksa. Si kernek beralasan lebih baik kita sambung Bus yang ke Kp. Rambutan karena belum tentu Bus jurusan Merak tersebut berhenti di Otista, tempat yang semula dijanjikan. Lelah, bingung, marah, kesal tercermin dari wajah teman-teman. Ditambah ‘Bus sambungan’ yang dianjurkan si kernek pnuhnya bukan main. Seperti Bus Way yang mengangkut penumpang di hari senin pagi yang hujan. Kami pun cari alternatif lain.

“Pak, tolonglah Pak. sampai senen. Biar TOL kami yang bayar, kami diturunkan di jalan ini Pak”, dengan logat batak, Erwandi mencari sewaan mobil lain. “Iyalah Pak, kasih aja harga segitu, kasihan mereka”, seru pengguna jalan lain. Bapak tua yang menyupir mobil jenis angkutan tersebut mengangguk. Sebenarnya saya juga kasihan dengan Bapak itu, seperti tertekan. Tapi kami juga ingin pulang.😀

Akhirnya, kami naik mobil sewaan tersebut dan melaju dengan cepat di TOL. Sudah tak ada lagi canda dan obrolan, yang tersisa mata yang berat dan siap menutup. Pukul 22.30 kami tiba di Cempaka Baru. Jabat tangan dan salam menutup perjalanan panjang kami. Sungguh pengalaman yang tidak akan saya lupakan. Semoga kisah ini bisa menjadi pengalaman dan pelajaran berharga bagi setiap pribadi kami.

“Jangan Meninggalkan Apapun Kecuali Jejak, Jangan Mengambil Apapun Kecuali Kenangan, Jangan Memetik Apapun Kecuali Hikmah dari Setiap Perjalanan”

mau lihat foto lebih banyak? klik disni

Comments on: "Catatan Perjalanan Ekspedisi DJKN 2012 ke GUNUNG GEDE" (8)

  1. ahhhh,…
    it’s hard to say good bye.

    • “bukan perpisahan ini yang aku sesalkan, tapi pertemuan itu..”
      haha, DTSD bgt..
      tenang des, km jakarta, pasti kl ad tmn yg lg dtg ke Jakarta bs km temui, beda sama yg di daerah😀

  2. Wahh, one moment in lifetime, Thanks for everything friends !

  3. tri wahyuningsih said:

    semoga ada moment seperti ini lagi biar bisa ikut😀

  4. […] harus rela mengorbankan waktu, juga duit pastinya.. T_T Setelah pendakian Gn Gede —> Catatan perjalanan Ekspedisi DJKN 2012 ke Gunung Gede, yang dikomandoi oleh Sdr. Tinton, berkisah lain perjalanan kali ini di komandoi oleh Sdr. Zilmi […]

  5. Jangan ngambil apapun kecuali foto, jangan mbunuh apapun kecuali waktu, jangan meninggalkan apapun kecuali jejak. *Aihh *Gunung itu amazing! :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: